biarlah resahku kulipat dalam tumpukan buku-bku
yang entah kapan bisa kubuka lagi
meski kusam dan kelabu
tak ada yang bisa kuberi
kecuali doa
semoga anak-anakku
memiliki budi
bukan hanya teori sperti yang kamu dapatkan di bangku kelas
dalam pandangan kosong dan hanya sekedar duduk
anak-anakku
doa kami
cinta dan iklas yang telah kami beri
kurikulum bukan untuk dikejar
karena ia tak pernah berlari
biarlah yang pernah sangkut
membekas di hati
Peringatan Hari Kartini kembali digelar pada tanggal 23 April 2011. Usai sholat hajat anak-anak kelas IX berkangsung maka Ajang tahunan sekaligus Festival Seni Antar Kelas ini terdiri atas berbagai lomba mulai berbalas pantun, cipta puisi, nulis cerpen, kebaya kartini, desain batik n aneka kuliner ini resmi dimulai . Seru habis...soalnya peserta cukup antusias. Pada sesi berbalas pantun, mula-mula malu-malu lama-lama hilang malu n malu-maluin..juga pada lomba bercerita..semangat banget euyii...Meski ada hambatan teknis karena lampu padam, lenggang-lenggok Kartini SMP cukup gemulai...selesai acara para siswa dan guru pun menikmati kuliner bikinan siswa... semoga melalui momentum Hari Kartini, SDM siswa sekolah ini lima langkah lebih maju melampaui R.A Kartini pada jamannya.. Amin...Setelah ini siswa kelas IX siap bertarung menghadapi UN.. moga semuanya lulus..
52 Tahun Eko Suryadi WS dan 35 tahun kepenyairannya. Itulah momen dimana para siswa seluruh Kalsel mulai tingkat SD hingga SLTA bergabung di Kotabaru pada tanggal 10-12 April 2011. Partisipasi kabupaten Tapin untuk mengikutsertakan para siswa lumayan oke. Bersama pembimbing berjumlah 13 orang, kamipun melaju ke Kotabaru. Sayang, sedikit oinsiden terjadi di Tabah Bumbu. Sedikit banyak mengoyahkan mental kami. Beruntung, masalah teratasi, meski tersedndat masalah finansial karena harus ganti rugi insiden, kami pun smaoai d Kotabaru..Menikmati perjalanan Tanjung Serdang -Kotabaru benar-benar memukau. Meliuk-liuk di sela pegunungan. Brr...dingin. Esoknya kami bertanding dengan segala daya upaya. Fosik dan mental yang lelah, membuat kami tak bisa tampil maksimal..He..he..kami pulang hanya membawa kenangan. Salut for panitia yang udah oke bikin acara ini. Sekali lagi..salut buat servicenya..trims dech,,,paling tidak kami bisa ke Sarang Tiung n bisa pose ma ubur-ubur...yang ga pernah kami lihat di daerah kami..melaju di ombak laut mu sambil menikmati makanan di siring lautmu...
Gerakan Pramuka Gugus Depan SMPN 1 Binuang mengikuti perkemahan atau yang disebut Jambore se Kab. Tapin, Senin, 2 Agustus sampai Kamis 5 Agustus 2010 kemaren. Gugus Depan kita merupakan wakil dari Kwartir Ranting Binuang, disamping Gugus Depan dari MTsN Binuang.
Kegiatan in berlangsung 4 hari di desa Salam Babaris, kec. Tapin Sselatan. Bumi perkemahan bertempat di lapangan, sekitar 3 km dari Tambarangan. Cuaca yang terik membuat tenda para peserta terasa panas dan ketika dingin ketika malam hari. Namun hal itu tidak mengurangi semangat peserta walaupun acara sangat padat.
Mulai berangkat hari Senin itu cuaca sangat terik, dan para peserta harus mendirikan tenda ditengah teriknya matahari jam 13 WITA itu. Tapi setelahnya acara cuma diisi dengan kegiatan pribadi. Untuk upacara pembukaan yang akan dihadiri Bupati Tapin baru besok pagi dilaksanakan.
Selama 4 hari itu banyak sekali kegiatan yang diikuti peserta, mulai dari apel pagi-sore, mengikuti lomba-lomba, penyuluhan tentang narkoba (oh iya, tema Jambore adalah menciptakan generasi muda anti narkoba) dan out bond/wide game. Walaupun cape namun peserta tetap semangat, apalagi bila diberi kesempatan meneriakkan yel-yel, peserta seperti saling beradu teriakan saking semangatnya.
Disamping kecakapan kepanduan, para peserta juga belajar hidup mandiri dengan memasak dan menjaga kebersihan tenda. Diajarkan hidup sederhana, disiplin dan taat peraturan. Sangat bagus untuk generasi muda kita.
Meskipun pramuka kwarran Binuang persiapannya seadanya dan hanya sedikit mendapat dukungan dana dari kecamatan, namun sangat mengejutkan bisa memperoleh 5 buah piala; antara lain juara 1 lomba menggambar, juara 3 kebersihan tenda, juara 3 outbond, juara 3 lomba menulis puisi dan juara 3 pentas seni. Salut buat kreatifitas peserta!! Apalagi dari kwarran Binuang terpilih 4 orang yang akan mewakili kab. Tapin ke Jambore Daerah nanti, dan salah satunya adalah Rina Purwandani dari SMPN 1 Binuang…hebat!
Dan yang membuat bangga, ternyata banyak siswa-siswa kita yang berbakat dalam seni, diantaranya ovie yang mengiringi madihin dengan petikan gitar, dan duo Nelly-Putri yang menyanyikan lagu Aishiteru (Nelly main gitar, Putri nyanyi) dengan sangat bagus.
Akhirnya, semoga kegiatan seperti ini dapat mendidik generasi muda kita agar lebih baik. AYO SEMUANYA, IKUT PRAMUKA!!
Ini adalah ‘selentingan’ atau ‘intermezo’ para peserta Jambore dari sekolah kita mengenai keadaan bumi perkemahan.
“Ulun pikir lokasi perkemahannya di hutan rindang, ada sungai dan hawanya sejuk, Ma’am…eh ternyata malah di lapangan. gak ada sungai pula….” keluh salah seorang peserta.
Sebenarnya anak-anak pramuka dari sekolah kita merasa sedikit kecewa dengan lokasi perkemahan yang bertempat di lapangan yang tandus tanpa ada tempat berlindung itu. Mana di dekat situ tidak ada sungai lagi (yang merupakan salah satu syarat untuk membuat tenda camp, harus dekat sungai)… Alih-alih sungai, yang disediakan oleh panlak malah mobil tangki yang airnya keruh dan harus dihemat. Apalagi letak mobil tangki yang lumayan jauh dari tenda, seember saja harus susah payah membawanya.
Tanya sana-sini akhirnya para peserta menemukan sebuah ‘danau’ untuk mandi. Namun permasalahan baru muncul; letaknya cukup jauh dari lokasi perkemahan, sehingga ketika peserta mau mandi gak jadi, takut kalau-kalau gak sempat….soalnya acara sangat padat! Belum lagi para panitia yang tidak bisa melihat peserta keluar lokasi sedikit saja, langsung ditegur. Siapa suruh menyediakan fasilitas yang minim….!
Sangat menjengkelkan sih sebenarnya. Coba bayangkan, keperluan vital seperti mandi, buang air kecil dan BAB harus terganggu gara-gara sarana untuk itu tidak memadai. memang ada sih WC dan kamar mandi disediakan, tapi airnya harus angkut sendiri. Dan siapa sih yang tahan dengan bau pesing yang nauzubillah…bikin napas megap-megap! Jadi, kira-kira ada gak yang tahan gak mandi selama 4 hari itu – kalaupun mandi itupun cuma sekali – pipis cuma pagi-pagi sama malam hari saja, dan gak BAB selama itu?
Alhasil, para peserta, alih-alih menggunakan fasilitas yang disediakan panitia, mereka malah lebih memilih numpang mandi, pipis dan BAB di rumah-rumah penduduk seberang lapangan. Kan bikin repot orang jadinya? Iya kalo yang punya rumah baik hati, kalo sambil ngomel, masa’ sih enak aja numpang mandi di rumah orang?
Kadang-kadang muncul pertanyaan, apa memang di kab. Tapin ini tidak ada satupun lokasi yang bagus buat acara seperti itu ya? Apa bumi Bastari kita ini sudah benar-benar rusak oleh pertambangan sehingga tidak ada sungai jernih, hutan rindang yang tertinggal? Seharusnya kita semua menyadari bahwa bumi kita ini sudah kritis, rusak oleh tangan-tangan kita sendiri. Hasilnya bisa dilihat sendiri; para peserta Jambore selama 4 hari harus rela menahan panas disiang hari..
Pertanyaan lain muncul; jangan-jangan yang namanya Jambore memang seperti itu: lokasi perkemahan di lapangan yang tandus, air dijatah, masalah mandi dan sebagainya adalah nomer kesekian yang penting kegiatan jalan, dan para peserta dibiarkan bikin repot penduduk untuk urusan ‘belakang’ tadi? Entahlah. Padahal di jadwal acara jelas-jelas dicantumkan; pada hari Kamis ada penyuluhan tentang Perilaku Hidup Bersih….Nah, kontras sekali bukan? Si Tutor dengan bersemangat menjelaskan pentingnya kebersihan diri, namun didepan mata sendiri para peserta nyata-nyata tidak mandi. Bahkan ada salah satu peserta yang mengajukan pertanyaan:”Kalo kegiatannya seperti Jambore ini, gimana caranya menjaga kesehatan sementara mandi cuma sekali 4 hari…?”. Kata Bu Tutor; “kalau seperti sekarang ini, ya harus hemat air….” Okelakalobegitu….
Yah, terlepas dari semua itu, tulisan ini cuma sekedar mengungkapkan kekecewaan peserta Jambore, khususnya dari Gudep sekolah kita. Dan kalau boleh kasih saran, cobalah panitia cari tempat dan fasilitas yang lebih ‘layak’. Kasihan para peserta.. Jangan sampai Jambore = gak mandi dan gak BAB……hehehe…
Tahukah kalian, kemaren hari Minggu 27 Juni 2010 adalah hari yang seru bagi anggota pramuka sekolah kita? Gimana tidak, kemaren itu seharian penuh diisi dengan kegiatan penjelajahan alam, atau kalo bahasa pramukanya ‘wide game’, kemudian siangnya disambung dengan kegiatan yang baru pertama kali dan satu-satunya di Binuang City ini, kegiatan yang, mungkin bagi sebagian besar siswa cuma bisa dilihat di TV pas acara liburan, yaitu…..FLYING FOX!
Iya bener! Emang bener-bener para anggota pramuka kita dilatih dan maen Flying Fox itu. Tau kan sama Flying Fox, atau bahasa kita ‘Rubah Terbang’? itu tuh…maen luncur-luncuran di udara pake tali, gak ubah kaya terbang bebas. Gak percaya? Coba aja simak.
Kegiatan pramuka memang akan mengadakan acara wide game atau penjelajahan alam. Maunya sih Bu Satriya mengadakan acara kemah, tapi berhubung keadaan yang gak mendukung, maka ya sudah, wide game pun jadi. Ngomong sana-sini, tiba-tiba Bu Helma nyumbang saran, gimana kalo anak-anak kita ajak main Flying Fox? Kebetulan Bu Helma dulu waktu kuliah adalah anggota Mapala, atau Mahasiswa Pencinta Alam di kampus beliau, yang kegiatannya gak jauh-jauh dari adventure seperti Flying Fox itu.
Karena keadaan cukup memungkinkan untuk melakukan aksi uji nyali itu, maka Bu Helma, setelah diamini oleh Bu Satriya, langsung kontak teman-teman beliau di Banjarmasin, yaitu Mapala IMPAS-B (Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam, Seni dan Budaya) FKIP Unlam Banjarmasin.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dari pagi para anggota Pramuka telah berkumpul di sekolah. Acara penjelajahan alam dimulai. Para kakak Pembina Pramuka cukup banyak yang ikutan membantu meramaikan acara. Anak-anak dibagi menjadi kelompok-kelompok yang beranggota 5 orang. Tiap-tiap kelompok harus mencari pos-pos sebanyak 7 buah, dimana tiap pos akan ada pertanyaan yang berhubungan dengan kecakapan bidang kepramukaan.
Awalnya anak-anak seru-seru aja. Tapi pas selesai pos terakhir dan kembali ke base camp, kok mereka pada nangis ya…? Apalagi begitu melihat bapak Supianto dan Bu Helma, mereka langsung salaman cium tangan sambil minta maaf. Ooh….ternyata di pos terakhir itu mereka diberikan wejangan dan renungan suci untuk menyadari kesalahan-kesalahan mereka…Dikira jatuh atau luka…eeh ternyata menyadari kesalahan too..hehehe..
Tepat pukul12 siang, kakak-kakak dari IMPAS-B datang dari Banjarmasin naik motor. Setelah perkenalan di sekolah dan makan siang, kaka-kaka ini langsung menuju lokasi Flying Fox, daerah Gunung Batu di Sarang Burung (ini nama desa, bukan sarang burung beneran, lho..) untuk menyiapkan dan memasang peralatan.
Eh..ternyata cukup lama juga ya memasang tali dan alat lainnya. Tuh…kaka-kakanya aja sampai keringetan. Bahkan ada satu kaka yang nangkring di atas pohon aja…bukannya mau meniru monyet, tapi memang sidin lagi sibuk memasang tali carmantel dan kunci-kunci pengamannya..hehe. nah.. lalu pas saat mengencangkan tali, perlu banyak tenaga yang membantu. Gak kurang semua kaka Pembina pramuka dan anak-anak cowo lainnya ikutan membantu. Yak…tarik…tahan..!
Cukup lama juga acara tarik-menarik ini selesai, soalnya perlu tenaga ekstra sih…sampai-sampai ada alat yang rusak dan tali yang putus…kasian kaka-kaka dari IMPAS-B, talinya rusak. Padahal belinya mahal lho… Akhirnya setelah perjuangan berat, terpasang juga talinya. Alhamdulillah…
Nah, sekarang tiba acara yang seru nih…satu persatu anak-anak mulai meluncur berFlying-Fox-ria. Gak ketinggalan Egwin yang bertubuh mirip si Po Kungfu Panda…hihihi…gendut maksudnya. Setelah dipaksa, akhirnya Egwin pasrah dikerubuti kaka-kaka yang memasangkan weebing atau sabuk pengaman. Awalnya yang lain ragu, sanggup gak neeh talinya menahan tubuh Egwin yang nauzubillah itu..? Tapi para kaka dari IMPAS-B meyakinkan, kekuatan tali dan pengaman lainnya mampu menahan beban seberat 3 ton! Kecuali berat Egwin lebih dari 3 ton, baru kalian boleh khawatir…. Hebat!
Akhirnya Egwin siap meluncur. Para penonton sibuk member semangat, ada yang bilang I love you segala…heehe.. Apa pesan terakhir Win? “Aku mau diet kalo sampai diseberang..”,teriak Egwin…eehh bener nih?
Area Fling Fox itu memang benar-benar mantap, kita meluncur menyeberangi kolam ikan, dari atas ke bawah yang cukup curam dan bikin jantung deg-degan. Apalagi pas meluncurnya, serasa pengen teriak antara takut dan senang. Tapi gak usah khawatir…kaka-kaka dari IMPAS-B memang benar-benar terlatih, mereka dengan penuh semangat melatih anak-anak. Ditambah pemandangan yang cukup indah, yang berbukit-bukit dan ada sungai kecil, meskipun airnya dari danau bekas kerukan batu bara yang sudah tidak terpakai lagi….benar-benar kontras…
Sayangnya, acara harus dihentikan karena hujan deras turun. Apalagi peralatan sebenarnya harus dihindarkan dari basah, dan tidak bisa digunakan. Sayang pula karena masih ada beberapa anak yang belum mencoba meluncur karena keburu hujan… Tapi gak papa, karena dari pagi sampai sore ini acara sudah seru, meskipun belum sempat mencoba, tahun depan akan diadakan lagi Flying Fox dan kaka-kaka dari IMPAS-B sangat bersedia datang lagi. Bulan depan diundang lagi juga pasti datang…kata mereka.
Akhirnya semua pulang, walaupun sambil hujan-hujanan karena hari sudah senja. Yang pasti acara ini sukses besar, dan mudah-mudahan menambah semangat para siswa untuk terus ikut kegiatan Pramuka.