SMPN 1 Binuang | Jl. Serawi Binuang | Kec. Binuang | Kab. Tapin | Kalimantan Selatan 71183| Telp : (0517)5508082

Senin, 07 Juni 2010

DENTING-DENTING IRAMA PANTING SI ALIN

-->
oleh: Indah Tri Rahayu
Libur ujian Nasional sudah berlalu, tapi semuanya masih hangat dalam ingatanku. Biasanya, tiap libura ujian Nasional aku memilih ke rumah Irma, sepupuku di Banjarmasin. Disana aku menghabiskan waktu dengan menikmati tiupan angin sepanjang pantai depan gubernuran hingga jembatan merdeka. Aku sendiri heran, kenapa seperti tak ada tempat lain. Pilihannya itu-itu aja. Bagiku, melihat Banjarmasin yang hanya bisa kulakukan setahun sekali lebih klop jika berada di Taman Siring. Terasa, setiap tahun ada perubahan. Sepanjang taman Siring tiap Sabtu sore penuh dengan aneka karakter manusia. Tahun sebelumnya, belum kulihat ada anak-anak punk mangkal disana, kali ini anak-anak punk bebas berekspresi dengan komunitasnya. Aman-aman saja, karena memang mereka tak membuat ulah. Belum lagi menyaksikan indahnya percikan air barisan pemadam yang berlatih,dimataku seperti lengkungan pelangi . Para penjual pentol mendominasi arena taman sore itu dan aneka softdrink sebentar saja habis diserbu pembeli. Menikmati sore sepanjang sungai Martapura diseling bunyi mesin klotok yang lalu lalang dan sesekali kulihat elang terbang mencari mangsa. Bagiku benar-benar sebuah pemandangan uniik. Tak terasa berjam-jam aku betah disitu. Sambil menikmati tahu gunting dan es nyiur, aku bercanda bersama Irma.
“Indah, tuh..liat, ..di sebrang sana, itu yang namanya rumah lanting..kamu bisa bayangin nggak, lagi ngapain penghuninya di dalam..” tanya Irma tiba-tiba.
“ Pasti lagi makan siang…terbalik nggak ya, kuahnya,,kalau pas klotok lewat.?’” Aku balik bertanya.
“Emang kamu yakin mereka makan pakai sayur…paling-paling yang terbalik air minumnya…he..he ..tawa kami berbarengan.
Itulah enaknya sama Irma, ada aja yang diomongin. Tak terasa, senja beranjak malam. Kumandang azan magrib menyentuh sanubariku. Kami beringsut, bergegas menuju arah masjid di berang taman. Memanjakan mata dan pikiran sepanjang sore di taman siring tak membuat kami lupa untuk melaksanakan kewajiban kami menghadap Sang Pemberi Nafas.
Usai shalat magrib kami kembali cuci mata menikmati pergantian waktu. Pohon lampu-lampu neon berwarna-warni begitu indah. Berkelap-kelip meliuk-liuk bagai seribu kunang-kunang menari indah. Aku mensyukuri betapa indahnya pemberian Sang Maha Pemberi. Kota Banjarmasin, taman Siring semakin Bungas di mataku. Kapan kota ku secantik ini? Aku yakin tak lama lagi.
Darr… tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang, membuyarkan lamunanku setahun lalu tentang Banjarmasin. Aku betul-betul terkejut..Irma..sepupu centilku ini datang berlibur ke kotaku. Tak ada pemberitahuan kapan ia akan datang, kukira dua hari lagi. Ternyata Irma curi start..ia libur lebih dulu dan merengek-rengek pada ibunya agar bisa berlibur ke kotaku. Irma..Irma..apa yang kamu lihat di kota kecil yang baru merangkak ini? Tapi aku tahu Irma, kepalanya lebih keras dari batok kelapa.
Menghabiskan libur di kota B, bagiku sama sekali tak ada yang menarik. Apa yang bisa kutunjukkan ke Irma. Danau-danau terlantar bekas galian batubara? Debu yang menyesakkan nafas, deru mesin-mesin truk pengangkut batu bara, atau gunung-gunung yang kini telah berbentuk jurang, atau …ah, aku bingung apa yang mesti kutunjukkan tentang kotaku. Aha,..ada Goa Batu Hapu yang menyimpan legenda Radin Pangantin, Si Anak Durhaka.. ada sirkuit Balipat yang berskala internasional dan stadion sepakbola yang juga berskala internasional. Tapi bagaimana bisa kutunjukkan. Jika tak ada event kegiatan, pintunya terkunci. Tak apalah, kami bisa melihatnya sejenak dari luar. Semua kutawarkan pada Irma, apa yang akan dipilihnya terlebih dulu. Tepat dugaanku… The Legend of Goa Batu Hapu…itu pilihan pertama Irma.
“Indah,.. besok pagi kita ke Batu Hapu ya,..kamu berani kan ngantar aku kesana?” tanya Irma tak memberiku kesempatan menolak.
“Oke..non..pagi-pagi, kita siap meluncur bersama” jawabku tak kalah semangat.
Usai sarapan pagi, kami bergegas memanaskan mesin sepeda motor. Jarak Goa Batu Hapu hanya sekitar 12 km dari rumahku. Dalam setengah jam aku yakin, kami pasti sudah berada di kerindangan pohon-pohon karet yang menaungi gua legenda itu. Sudah kubayangkan, Irma akan sibuk jepret sana-sini, mengabadikan stalagtit yang menggantung indah di dinding-dinding gua. Ratusan kelelawar yang bergelantungan dalam gua tak akan menjadi penghalang bagi Irma untuk mengelilingi gua. Aku heran, cewek centil yang satu ini petualang banget. Entah darimana darah itu mengalir. Ayah ibu, dan kakak nya home sweet banget.
Menikmati udara pagi menuju gua batu hapu serasa melonggarkan nafasku yang seharian sesak menghisap udara bercampur debu dan asap kanlpot. Sayang, perjalanan tak sesuai yang kami harapkan. Tiba-tiba ban sepeda motor kami kempes. Sial… padahal kami igin berlena-lena menikmati segar udara sekeliling gua. Wajah Irma terlihat cemberut…
“Jangan cemberut..ntar cepat keriput…lama-lama jadi nini kisut…hi..hi…” candaku sambil menuntun sepeda motor. Irma mengusap peluh yang mengalir di wajahnya.
“Tuch…di depan ada bengkel..santai aja muhanya…” candaku lagi.
‘Paman..paman..paman…ui…urangnya….” seru Irma. Tak ada sahutan. Kami heran, padahal jelas-jelas bengkel tambal ban ini buka.
“Kita tunggu aja..barangkali pamannya lagi kebelet..” ucap Irma .
Sambil menunggu, kami iseng melihat-lihat sekitar. Sayup-sayup, telingaku mendengar suara music. Bukan..bukan music, tepatnya seperti suara panting. Yah..aku hafal dengan suara panting. Sebab setiap sore, setiap kali kubuka televisi local..terdengar bunyi music tradisional yang melagukan Paris Barantai. Makanya, meski tak pernah kulihat langsung music panting, setidaknya aku sering mendengarnya. Aku tak pernah tahu secara langsung seperti apa bentuknya. Semacam gitarkah, atau biola? Jika kulihat lewat gambar seperti gitar kecil mainan adikku. Tapi bunyinya seperti biola. Ah, tak peduli bentuknya seperti apa. Yang jelas aku sangat menyukainya. Pernah suatu kali aku ke toko buku di Banjarmasin Senangnya hatiku, saat itu music panting dibunyikan. Kucari di stand kaset dan CD berharap semoga music yang lagi kedengar saat itu ada dijual. Pencarianku sia-sia. Pelan dan malu-malu kutanya petugas.
“Mbak..musik panting yang lagi diputar ini ada nggak kaset/CDnya..?” tanyaku
“Oh..nggak..ada..ini juga kami down load dari Swiss Bell Hotel…” jelas petugas cantik itu dengan ramah.
“GimAna dong Mbak, cara dapetin..aku pengiiin…banget..boleh dong Mbak kita ngopi..” tanyaku nekad.
“Wah..nggak bisa Dik, kita nggak berani, ngaak ada ijin, ntar malah kita masuk penjara karena menggadakan tanpa seijin pemilik..he..he..” jelas Mbak itu ramah.
Aku kecewa berat..kenapa music ini sulit banget di dapat. Gimana mau cinta music daerah, kalau nggak dijual bebas kayak kaset-kaset lain, lama-lama nanti di klaim Malaysia tu..sebagai music daerahnya..Batik udah, Rasa Sayange udah, Tari Bali udah…jangan-jangan nanti kalau panting di dengar Malaysia, di klaimnya lagi…uhh…sebal..gumamku sendiri .
Suara panting itu kian dekat. Aku tak tahu lagu apa yang dimainkan. Terasa terdengar berbeda. Tajam menusuk-nusuk, pedih menyayat-nyayat. Sepertinya dimainkan dengan nada marah dan kecewa. Aku dan Irma terus mendekat ke sumber bunyi. Sebuah rumah bercat hijau halamannya tak terawat, daun-daun gugur berserakan. Kami ucapkan salam. Tak ada sahutan. Bunyi panting itu kian jelas terdengar. Nadanya kian tak beraturan, kian menyayat-nyayat. Kami berpandangan, ada sedikit keraguan di hatiku. Irma tetap seperti biasa. Tegar tak ada rasa was-was di wajahnya.
Assalamualaikum…” ini sudah ketujuh kalinya kami mengulang.
Sikap nekad Irma mulai kambuh. Dicobanya membuka pintu, tak terkunci. Lagi-lagi kami berpandangan. Masuk atau tidak ya... Nekad kami masuk. Pelan dan sambil komat-kamit, kubaca Shalawat Nabi sebanyak-banyaknya, masuk rumah orang tanpa permisi jelas ini pertama kali. Di dalam ruangan semakin terlihat kotor, menunjukkan rumah ini tak terawatt, padahal jelas-jelas ada penghuninya. Paling tidak bapak-bapak pemain panting tadi, pikirku. Musik itu masih dimainkan. Kami menuju ke kamar.
Astaga…benar-benar diluar dugaan kami. Seorang anak yang kutaksir berusia 13 tahun duduk di samping dipan menunggui ayahnya yang sakit. Melihat kami masuk, ia menghentikan permainannya. Wajahnya kurus, tatapan matanya tajam memandang kami. Irma mengenalkan diri terlebih dulu. Aku menyusulnya. Kukira yang memainkan panting tadi orang tua, ternyata usianya tak jauh beda denganku. Darimana ia belajar memetik senar-senar panting. Tuhan, aku bingung..tubuhku tiba-tiba panas dingin. Alat music dan pemainnya kini ada di hadapanku. Tapi kenapa aku takut dengan permainan panting anak itu?
“Namaku Alin…aku belajar panting sejak usia enam tahun. Ayah yang mengajariku, sidin dulu pemain panting . Kami sekeluarga pemain panting. Tapi, sejak ibu meninggal, ayah tak mau lagi memainkan music ini. Waktu itu, kami diundang orang, di jalan mobil yang kami tumpangi ditabrak truk batubara. Ibu meninggal di tempat, aku dan ayah masuk rumah sakit. Sayang, ayah tak bisa lagi berjalan. Sebelah kakiku juga tak bisa disembuhkan. Sampai sekarang, aku tak bisa berjalan normal. Aku malu dengan teman-teman, makanya aku memilih berhenti sekolah. Meski ayah sering melarangku memainkan panting, aku tetap nekad…soalnya tiap kali aku memainkan panting, ibu seolah-olah hadir bernyanyi di sampingku. Sampai akhirnya ayah maklum, dan tak melarangku lagi. Beginilah, kalau bengkel lagi sunyi aku memainkan panting. Sedikit menghibur….” Ucapnya tercekat menahan tangis.
“Alin..kamu tinggal sama siapa?’ tanyaku
“Berdua ayah,. Aku merawat ayah. Aku bekerja sebagai penambal ban untuk makan sehari-hari. Mengharap ayah normal seperti dulu, rasanya nggak mungkin. “ ucapnya pasrah.
Tak terasa mendengar cerita singkatnya kami menitikkan airmata. Kusembunyikan rapat-rapat. Kulirik Irma, si centil ini matanya memerah menahan haru.
“Eh..kalian koq bisa disini? “ tanya Alin
“Kami kempes ban,.kami mau ke Batu Hapu, tiba-tiba ban kempes dan kami tersesat kesini…” jawab Irma sekenanya menetralisir suasana.
“Oh..ya, kalau begitu, mari kita ke bengkel..maaf, bengkel sejak pagi sunyi, jadi aku milih main panting” ucap Alin. Ia mencoba bangun dengan tertatih. Kakinya pincang. Terseret-seret ia menuju bengkelnya. Kami mengiringinya dari belakang. Sekecil ini ia hidup dengan beban seberat itu? Jika itu terjadi pada kami, aku tak yakin sanggup menjalani.
Perjalanan ke Batu Hapu kami putuskan berhenti di bengkel Alin. Entah kenapa, hati kami cepat akrab dengan anak laki-laki yang penuh derita ini. Aku dan Irma sibuk memikirkan ide apa yang akan kami sampaikan nanti.
“Lin..” ucapku berbarengan dengan Irma.
“He..he..Indah. mau ngomong apa kamu..?” tamya Irma
“Kamu aja duluan, mau ngomong apa ke Alin”..jawabku
“Lin,..kapan-kapan pantingmu kurekam ya, nanti kuperbanyak, ayahku punya studio music..uang hasil CD mu nanti buat kamu dan ayahmu, mau nggak..ayahku pasti setuju..” kata Irma. Aku melongo.
“Indah..kalau kamu gimana?” tanya Irma
“Hmm…Lin, kamu mau nggak ngajarain kami music panting, nanti kami yang kesini, aku mau ngusul dulu sama Bu Guru, mudah-mudahan beliau setuju untuk kegiatan ekskul..Yah, mudah-mudahan aja sekolah punya dan cukup untuk pelatih ekskul, kalau nggak kami akan patungan buat bayar ke kamu sebagai pelatih..mau ya..mau ya Lin,,.mau dong..”” desak Indah.
Alin Cuma tersenyum. Ia tak bisa memberi jawaban pasti.
Usai menambal ban, aku mencubit lengan Irma dan mengedipkan sebelah mata. Isyarat ini biasa kami lakukan. Kukeluarkan isi dompetku dan kuserahkan ke Irma. Terkumpul dua puluh lima ribu. Dengan hati tulus kuserahkan ke Alin. Alin menolak. Ia hanya mengambil jatah tambal ban sebesar tujuh ribu rupiah. Kami tak ingin melukai perasaannya. Uang itu kumasukkan ke dompetku lagi. Alin kami minta memainkan panting kembali. Irama panting berdenting lagi. Lagu Uma-Abah mengalun merasuk ke hati…
Kami pamit. Hari ini tak jadi ke Batu Hapu tak apa-apa. Meski keindahan stalagtik tak jadi kami nikmati, tapi kami punya pelajaran berarti. Kami janji, kami pasti kembali.
Batu Hapu..Batu Hapu.. Legendamu terukir abadi..

Senin, 10 Mei 2010

PENGUMUMAN KELULUSAN UN DIWARNAI SEDIKIT PROTES SISWA

Sabtu, 8 Mei 2010 pengumuman kelulusan UN SMP dilaksanakan. Setelah sekian jam menunggu dengan deg-degan, pukul 10.30 wita akhirnya amplop pengumuman yang dijepit dalam album alumni 2010 itupun akhirnya dibagikan di ruang kelas oleh wali kelas dan diterima oleh wali murid masing-masing siswa. Detik-detik menunggu pengumuman, tentu mennjadi hal yang paling mendebarkan bagi siswa. Apalagi, sebelumnya beredar kabar bahwa siswa di sekolah ini ada yang harus mengulang.

Sebelum pengumuman dibagikan, kepala sekolah Drs. Asy’ari, terlebih dahulu mengadakan rapat Dewan Guru yang intinya adalah bagaimana membesarkan hati para siswa yang harus mengulang agar terhindar dari trauma psikologis dan menjelaskan pada orangtua mereka bahwa sekolah sudah berupaya membantu baik dengan les, tambahan jam belajar, dan penjelasan berkali-kali agar dalam melingkari jawaban para siswa harus hati-hati dan tidak sembrono. Masalah ujian sekolah dan ujian praktek agar lebih diperhatikan, bagi siswa yang masih bermasalah dalam ujian praktek dll, pengumuman kelulusan agar ditunda dan diberi penjelasan sebab-sebab penundaan tersebut dan harus segera diselesaikan secepat mungkin. Ini terjadi karena ada beberapa siswa yang tidak ikut ujian praktek, padahal guru yang bersangkutan sudah berkali-kali memanggil agar siswa tersebut segera ikut ujian praktek.

Dari 120 siswa yang ikut ujian Nasional, ternyata ada 3 orang siswa yang terpaksa harus mengulang, karena nilai mereka berada di bawah standar kelulusan. Ini berarti prosentasi kelulusan sebesar 97,5%. Dalam ujian sekolah, seluruh siswa memperoleh nilai di atas standar kelulusan. Meski demikian,ada beberapa siswa yang terpakasa pengumuman kelulusannya ditunda karena belum menyelesaikan ujian praktek. Selama ini siswa beranggapan bahwa kelulusan hanya ditentukan oleh ujian nasional. Anggapan demikian jelas kurang benar, karena Ujian Sekolah dan ujian praktek turut berpengaruh besar dalam kelulusan.

Untuk mengatasi trauma siswa yang belum berhasil dalam ujian Nasional, para guru menekankan bahwa ini bukan masalah Lulus/Tidak Lulus..melainkan hanya Mengulang. Karena dalam lembar pengumuman Ujian Nasional yang tercantum adalan U (Ulang)Yang diulangpun hanya mata pelajaran yang belum mencapai standar..ijazahnya pun ijazah SMP, bukan Paket…. Hal ini cukup membantu untuk membesarkan hati para siswa dan kekecewaan orangtua.

Namun, sedikit protes terjadi usai pengumuman perainh nilai teringgi Ujian Nasional.Banyak siswa merasa tidak puas dan tidak percaya pada salah satu peraih peringkat tersebut.

Dia memang berhak meraih peringkat satu,karena dia memang pintar dan jago sains di kabupaten ini,tapi…yang lain..mereka cuma beruntung… protes lima orang siswa berbarengan.Nilai ini banyak nggak sesuai… Coba bayAngkan, yang jarang masuk kelas… Bahasa Inggrisnya,,hampir sembilan...booo. Mereka terus bergumam sesama teman, ribut-ribut ini akhirnya mereda setelah ada penjelasan bahwa ini sudah terjadi dan inilah rejeki mereka..Ga perlu diributkan. Lain kali semoga keberuntungan ada di tanganmu. Ini keampuhan doa dan bakti pada orangtua serta guru..Meski jawaban ini tak memuaskan mereka, paling tidak sedikit mengurangi kegundahan.

Lucunya, para dewan guru ternyata punya kandidat masing-masing dalam hal peringkat UN. Bu Kamariah, S.Pd selaku Bagian Kurikulum menyebutkan kandidatnya, jika boleh berandai-andai maka peringkat satu Aulia Rahman, Lucky Delli Saputra, dan Arie Kurniawan… Ibu Shinta,S.Pd, guru Bhasa Inggris juga punya jagoan..Lucky, Ferry, Arie Kurniawan, Aulia, Fitriyanoor. mereka layak lho dapat peringkat.. Tak beda jauh dengan mereka, Bapak Supianto, S.Pd wali kelas IX/B punya jago pula..Lucky, Fitriyanoor, DAN Firman H..ketiganya jagoan IX/B tapi ada Mirnawati juga lho… Heriani, S.Pd selaku guru IPS dan awali kelas IX/A punya jagian juga..Arie, Ferry, Anita, Dini…(eh, koq Cuma warga IX/A aja Bu,,hi…hi…maklum ibunya Cuma terbayang-bayang wajah IX/A , habis..IX/A sulit..banget melunasi uang pengukuhan,..ah, ibu buka kartu aja..)

Ibu Striya, M.Pd , guru Bahasa Indonesia juga ikut bicara..kalau saya sih..Arie K, Lucky Delli, Aulia Rahman,Ferry, Fitriyanoor,Firman, Dini,Ratu…(ih..koq banyak amat kan Cuma tiga besar Bu,..he..he..penginnya sih semuanya juara ).

Mengenai para jagoan Ujian Nasional ini. Guru-guru Cuma berandai-andai…kayak lagunya OPie Andaresta tahun 90 an itu lho…Cuma Khayalan…andai…a…a…aaku… Bagi nama yang belum disebutkan dalam jagoan, itu cuma lupa belaka…., mohon bersabar, akan ada susulan…he..he…

Intinya, pengumuman kelulusan UN ini diluar dugaan para guru dan siswa. Nilai-nilai ujian tersebut benar-benar kurang mempresentasikan kebenaran yang ada dengan kemampuan siswa sesungguhnya. Banyak siswa yang pintar, tapi nilainya rendah..sebaliknya banyak siswa yang sedang-sedang saja..nilainya membumbung ke atas atap..(he…he…balon kali..)Sedikit mengecewakan, tapi inilah system… Apa yang kita inginkan tak sesuai dengan kenyataan. Saat ini, Ujian Nasional..hanya semacam uji keberuntungan..get n lucky. Jenis soal yang pilohan ganda, memiliki peluang bagi siswa untuk berharap banyak semoga keberuntungan berada ditangan mereka. Semoga setiap soal yang dilingkari adalah benar…jadi istilah berdoa dan berharap jadi nomor satu..belajar nomor sekian… Tapi ada juga lho..yang emang pintar, jadi wajar aja kalau nilainya tinggi..

Bagi siswa, nilai jangan jadi acuan kebanggaan..belajar untuk menunjukkan prestasi sesungguhnya itu adalah tujuan…Sebab tiga tahun bersama, temanmu dan guru-gurumu tahu bagaimana kamu sebenarnya. Jangan kecewa dengan nilai yang tertera, jangan bangga dengan nilai yang ada..telusuri dirimu, benarkah aku menjadi diriku..?..(Ih,koq filsafat banget..bingung nih..)..Jangan lupa..belajarlah untuk selalu bersyukur…Langkah masih panjang...impian masih perlu diwujudkan,,,Terus….bermimpi..kayak Sang Pemimpinya Andrea Hirata.

Kedepan, diharapkan bagaimana mempola Ujian Nasional benar-benar dapat mempresentasikan kemampuan siswa yang sesungguhnya. Tak hanya tanggung jawab para guru, tapi juga pemerintah yang telah memberlakukan ini semua. Kami tetap mengharap yang terbaik,..

Minggu, 09 Mei 2010

Sabtu, 08 Mei 2010

KEPADA MURIDKU


Karya : HELMAWATI, S.Pd

 
Aku tahu kegalauan hatimu, ANAKKU, aku tahu kegelisahanmu
Disaat kumbang-kumbang mengerubuni bunga
Ketika para petani panen dan bersuka

 
Aku tahu kehampaan jiwamu, ANAKKU, aku tahu kelam hatimu
Disaat musim cerah bersemi
Ketika anak-anak lain rami berlari

 
Tapi cobalah kau renungkan;
"Tidak semua hari di musim hujan, basah.
Seperti tidak semua hari di musim kemarau, kering."

 
Mungkin kau perlu menunggu lagi
Padi yang kau tanam masih muda
Belum saatnya tuk dituai
Nanti bila saatnya tiba, yang kau panen adalah
"Padi surga"

 
(Didedikasikan untuk siswa-siswaku yang belum berhasil menempuh UJIAN NASIONAL, semoga tetap tabah dan tetap semangat)

BAGIMU GURUKU


Karya : Satriya M.Pd

 
Hari ini genap sudah
Kuukir tinta di bangku sekolah
Sisakan berjuta kisah indah
Yang tak kan pernah musnah

 
Masih kuingat saat itu
Kujejakkan kaki di kelas Satu
Semua seperti baru

 
Seperti baru kemaren berlalu
Kulihat tawa teman sebangku
Lucu dan malu-malu
Kukenalkan diriku

 
Di bawah rindang pohon Ketapang
Kunyanyikan lagu dendang
Kini aku jadi anak sekolahan
Di SMP 1 Binuang tersayang

 
Seperti tak ingin kulepaskan
Jabat tangan guru-guruku tersayang
Yang kadang membuatku terngiang
Nasehat, petunjuk, ceramah
Yang membuatku uring-uringan

 
Kini telah kutahu itu semua
Dan tersisa sesal di dada
Marah yang pernah ada
Berganti sesal sesak di dada
Maaf guru tercinta,
Pengabdianmu tulus tiada tara

 
Sesalku adalah tangis di hati
Titikkan rasa sepi dan hampa diri
Telah kupikir dengan hati-hati
Tanpamu guruku…
Akan jadi apa aku nanti

 
Untukmu guruku
Maaf kuucap seluruh kalbu
Atas tindakanku
Menentangmu

 
Untukmu guruku
Layak kau sandang tanda pahlawan
Ka kusematkan dengan hati sayang
Karena kutahu yang kau perjuangkan
Begitu berat dan penuh beban…

 
Apa yang kuberikan untukmu wahai guruku?
Selama ini hanya kedongkolan dan omelan
Atas sikapku yang penuh tuntutan
Hingga sering membuatku bosan

 
Hari ini genap sudah tiga tahun kebersamaan
Ilmu yang telah kau tumpahkan
Nasehat yang telah kau berikan
Senyum yang kau tebarkan
Kan kuukir indah di hati yang dalam

 
Untukmu guru bangsa
Pahlawan tanpa tanda jasa
Kan kusematkan cinta di di dada
Kan kupersembahkan bagi guruku tercinta

 
Kuucap lirih di kalbuku
Terima kasih untukmu
Doa dan maaf tulusmu
Menjadi bekalku menuntut ilmu
Menuntun aku ke masa depanku

 
Engkau para guruku
Bersama sesal dan air mataku
Terimalah maaf kami selalu

 
(Dibuat untuk acara perpisahan kelas IX, 6 Mei 2010)

 

 

IBU KARTINI


Oleh : Hesty Wahyuni, kelas VIII D

 
Kau adalah pendekar bangsa
Kau telah memerdekakan kaum wanita
Kau adalah pejuang bagi kaum wanita
Kau adalah putrid Indonesia

 
Setiap saat kau kami rindu
Setiap saat kami kenang dirimu
Setiap saat ku ingin melihatmu
Kau tak kan pernah dilupakan sepanjang waktu

 
Kau adalah pejuang wanita Indonesia
Sungguh besar cita-citamu bagi Negara
Tak kan terlupa sepanjang masa

 
Kau telah menciptakan inspirasi
Dari dirimu sendiri
Bagi kami penerus negri
Kau, adalah ibu kami;
    "Ibu Kartini.."

Balada Perempuan Pemanggul Batu


Oleh : Dinni Visudha Anjartya

 
Nak…
Di tengah kesia-siaan
Dan ketakberdayaan
Yang belum pernah kubayang
Aku tersedan…

 
Nak…
Aku heran kenapa air mata ini tak bisa kukucurkan
Apa didih darah di setiap nadiku
Tengah mengerontangkan seduku?

 
Nak…
Sudahkan kau maafkan
Tangan renta yang tak sempat
Membekalimu
Sebab nafasku berburu waktu

 
Nak…
Jangan ratapi kemiskinan dan kepapaan
Karena ini semua rasa saying
Dari Sang Maha Rahman
Tersenyumlah di tengah kepahitan
Karena lelah sewaktu-waktu dapat
Berubah menjadi kenikmatan

 
Nak…
Jangan tanya bagi siapa sahabat sejati?
Karena jelas matahari, batu, gunung, dan karung
Adalah setiaku

 
Nak…
Beribu ton telah kupanggul
Batu hitam yang membuat kita unggul
Lihatlah…
Tangan tua itu kian keriput
Tak ada tangis, tak ada desah
Pasrah itu intinya

 
Nak…
Jangan Tanya kenapa bencana
Karena tak cukup kata untuk ku jawab
Tak ada keberanian demi nasi sesuap
Sampai sejatiku meneriakkan amarah
"Bumiku telah kau koyak, kau rampok, kau sakiti"

 
Nak…
Aku tak kuat
Tubuhku limbung
Dan manakala sajak ini sampai padamu
Ibu telah bersama angin, berkelana membawa roh
Sebab menjelang petang, truk yang terbiasa membawa batuku
Melindasku        
Menyatu bersama debu…